
Teori Konsumunitas
Prof. Agus W. Soehadi PH.D dan Dr. Eka Ardianto
Prasetiya Mulya
Business School
Konsep pemasaran modern yang
diintroduksi oleh Philip Kotler pada 1970-an masih mendominasi pola pikir baik
akademisi maudpun praktisi pemasaran. Dalam konsep ini, perusahaan dituntut
memiliki keterampilan meracik kebutuhan konsumen.Bagi perusahaan yang dianggap
lebih efisien dan efektif meracik kebutuhan konsumen, mereka akan menang dalam
eprsaingan. Dalam hal ini, konsumen hanya sebagai obyek yang tidak berpartispasi
aktif dalam penciptaan nilai. Namun, dari sini lahir konsep seperti consumer
satisfaction, customer value, customer loyalty, customer relationship management
dan sebagainya.
Dalam artikel Co-creation value
yang dipublikasi tahun 2002, Prahalad mulai mengugat konsep itu. Ia menekankan
pentingnya peran aktif konsumen dalam penciptaan nilai. Konsumen cenderung lebih
independen dalam menentukan produk ataupun cara mengkonsumsi produk. Perubahan
perilaku yang terjadi didorong oleh perkembangan komunitas konsumen. Sebagai
contoh, perusahaan Lego merangsang komunitas para penggemar Lego untuk merancang
suatu produk yang unik. Hasilnya, rancangan itu ditawarkan ke konsumen lain dan
si perancang memperoleh royalty dari Lego.
Contoh berikutnya adalah
bagaimana komunitas konsumen eBay berkontribusi sangat nyata dalam menunjang
keberhasilan bisnisnya. eBay meluncurkan websitenya tahun 1995 dengan U$ 30
untuk biaya layanan Internet di rumah. Situsntya dibuat sangat menarik dan mampu
mencapai trafik yang tinggi. Dalam satu bulan pertama, eBay dapat menghasilkan
US$ 1.000. Transaksi yang terjadi terus meningkat, dan pada 2006 mampu
menghasilkan US$ 5.925 milliar. Anggota komuntas eBay adalah konsumen sekaligus
produsen.
Bila fenomena di atas terjadi
di luar Indonesia, bagaimana di Indonesia? Maraknya keberadaan komunitas
konsumen di Tanah Air merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti. Komunitas
Konsumen dalam hal ini adalah komunitas yang dapat memberikan kontribusi
keuangan, khususnya indikator arus kas positif terhadap bisnis produsen.
Komunitas konsumen dapat berupa komunitas yang mengonsumsi suatu merek tertentu,
misalnya, Honda Tiger Mailing List. Atau mengonsumsi suatu kategori produk
tertentu, misalnya, Bike to Work. Namun fenomena tersebut belum banyak dipahami
oleh produsen atau pebisnis. Oleh karena itu Prasetiya Mulya bersama Majalah SWA
tergerak untuk melakukan penelitian terhadap komunitas-komunitas konsumen yang
ada. Penelitian ini bertujuan untuk memberi pemahaman bagi pebisnis bahwa
keberadaan komunitas konsumen memiliki kecenderungan dapat berkontribusi
keuangan buat pebisnis. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menambah
perbendaharaan teori baru dalam bisnis secara umum dan pemasaran secara khusus.
Berbagai studi literatur
melatarbelakangi penelitian ini yang mengarah pada konsep yang menyatakan bahwa
proses pembentukan komunitas konsumen dipengaruhi oleh empat varibael katalis,
yaitu: produsen; konsumen; merek; dan produk. Selain dari adanya pengaruh
variabel katalis, komunitas konsumen perlu dipahami sebagai suatu konsumsi.
Konsumsi mengandung tiga ciri, yaitu: 1) Konsumen aktif melakukan pemaknaan
ulang terhadap makan yang telah diproduksi oleh produsen; 2) Konsumen
mengkonstruksi berbagai makna diberbagai situasi dan pelaku; 3) Konsumen
mengekspresi sekaligus merefleksi, yang berarti di satu sisi konsumsi
dipertunjukkan keluar,sedangkan di lain sisi konsumsi dipertunjukkan ke dalam.
Ketiga ciri konsumsi itu merupakan suatu proses. Dengan demikian, konsumunitas
adalah sebuah kata kerja, sedangkan komunitas konsumen adalah kata benda.
ICE 2007 menitik beratkan pada
proses konsumsi konsumen yang berpotensi untuk memberntuk komunitas konsumen,s
elanjutnya komunitas itu dapat memberikan kontribusi keuangan terhadap bisnis
produsen, khususnya indikator arus kas positif.
Kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang positif dapat diterjemahkan sebagai:
- Kesegaran komunitas untuk membeli produk atau
merek yang berkaitan dengan komunitasnya;
- Komunitas tidak sensitif terhadap kenaikan
harga produk atau merek yang berkaitan dengan komunitasnya;
- Mempengaruhi orang lain agar mau membeli
produk atau mereka yang berkaitan dengan komunitasnya, kemudian bersama-sama
mengonsumsinya.
Dalam bahasa sederhana, ICE
2007 menyatakan bahwa komunitas konsumen dapat memberikan kontribusi positif
terhadap keuangan produsen.
ICE 2007 juga meneliti
tipe-tipe konsumunitas yang terbagi atas: tipe maker, establisher, infant,
grower, developer, whisper, creator, contributor, dan proffer dalam kaitan
dengan pembentukan komunitas dan kontribusi ke keuangan produsen.